| Written by Tim Media Center, on 17-11-2009 01:58 |
Pertambahan luas areal pertanian harus pula di barengi dengan peningkatan penggunaan pupuk, hanya saja akibat meluasnya areal tersebut kadang tidak di barengi dengan peningkatan kapasitas produksi pupuk di tanah air sehingga menyebabkan di beberapa daerah kadang di jumpai kelangkaan pupuk. Tentu saja hal ini akan berimbas pada peningkatan produksi pertanian serta pendapatan petani itu sendiri.
Berdasarkan hal tersebut, beberapa Kelompok Tani di Kabupaten Sinjai mencoba memproduksi pupuk organik untuk menyiasati pertambahan areal serta kelangkaan pupuk, utamanya pupuk anorganik. Salah satu yang telah berkembang dan memiliki pangsa pasar yang cukup luas adalah kelompok tani asal Desa Mannanti, Sinjai Selatan, yang tergabung dalam KUB (Kelompok Usaha Bersama) Al-Wahab. “Usaha ini dimulai sejak tahun 2003 silam dengan menggunakan sistem manual, dan dalam perkembangannya, di tahun 2007 kami telah mendapatkan bantuan mesin pembuat pupuk organik dari pemerintah Kabupaten Sinjai, dan saat ini kapasitas produksi perbulannya sudah mencapai 100 ton” ujar ketua KBU Al-Wahab, A. Sudirman kepada news media center saat meninjau pengolahan pupuk organik, didampingi Tim dari Dinas Pertanian TPH, Enniwati SP dan Faris SP, Sabtu (14/11).
Dikatakan, pergerakan usaha ini secara tidak langsung telah memberikan peluang lapangan kerja serta peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat di sekitarnya. “Dengan adanya usaha ini, memberikan dampak yang cukup bagus bagi sektor ekonomi, di mana saat ini jumlah tenaga kerja yang kami serap sebanyak 10 orang, belum lagi memberi peluang masyarakat sekitar untuk mendapatkan penghasilan dengan menjual komponen bahan pembuat pupuk ini, misalnya kotoran hewan ternak yang kami beli 4.000 rupiah per karung, serbuk gergaji 2.000 rupiah per karung, ataupun penduduk yang mengumpulkan jerami kami berikan upah 25.000 per harinya, jadi sangat memberikan nilai ekonomis di masyarakat sekitar” katanya.
Terkait pangsa pasar, saat ini sudah merambah ke beberapa daerah. “Saat ini produksi pupuk kami terbagi dalam 3 kemasan, yakni kemasan 1 Kg kami jual dengan harga 3.500 rupiah, kemasan 25 Kg dengan harga 25,000 rupiah dan 50 Kg dengan harga 50,000 rupiah. Ini sudah lulus uji dan mendapat sertifikat dari laboratorium pengujian BBIHP Makassar, dan produksi ini selain memenuhi kebutuhan petani di Sinjai, telah merambah pula ke luar daerah, diantaranya Bulukumba, Bantaeng, bahkan Palopo, walaupun promosi produksi hanya kami lakukan berupa selebaran yang kami sebar antara kelompok tani serta melalui Dinas Pertanian di beberapa daerah” kata Sudirman setengah berpromosi.
Sementara, Kasi Alsintan Dinas Pertanian TPH Sinjai, Erniwati SP mengatakan saat ini pihaknya telah menggiatkan pembuatan pupuk organik di beberapa kelompok tani yang ada. “Terkait pengolahaan pupuk organik, sejak tahun 2007 melalui dana APBN telah di salurkan 4 buah APPO (Alat pembuat pupuk organik.red) pada 4 kelompok tani, dan hasilnya telah mampu memproduksi pupuk organik, baik untuk konsumsi sendiri maupun telah meluas di beberapa daerah seperti KUB Al-Wahab ini, olehnya kemarin kita telah mendapat bantuan lagi sebanyak 6 unit APPO yang bersumber dari APBD II sehingga total saat ini sebanyak 10 Kelompok tani dan tersebar di semua kecamatan, kecuali Borong dan Pulau sembilan” katanya.
Dia berharap agar dengan tersedianya peralatan tersebut, tidak menutup kemungkinan di masa akan datang Sinjai akan menjadi salah satu daerah penghasil pupuk organik di Sulawesi Selatan. “Dengan terpenuhinya pupuk organik oleh petani, maka ketergantungan penggunaan pupuk kimia akan semakin menurun, sebab dari hasil penelitian membuktikan pupuk organik bebas bau, bebas bahan kimia, meningkatkan hasil pertanian dan juga menggemburkan tanah. Tak menutup kemungkinan Sinjai akan menjadi produsen pupuk organik, apalagi saat ini produksi kita telah mulai di kenal di beberapa daerah” kunci Erniwati. (Hidayat). Last update: 17-11-2009 06:25
Users' Comments (0)
|
|
|